Dunia pendidikan mulai memasuki tahap kerusakan yang cukup parah tatkala, Nilai Ujian akhir Nasional (UAN) menjadi tolok ukur kelulusan siswa. Kemudian berimbas pada tolok ukur kinerja seorang pendidik, kepala dinas maupun kepala daerah. Tak ayal lagi isu bocor membocor kunci jawabanpun beredar ramai hampir di seluruh media cetak maupun elektronik.
Sebagai seorang suami dari seorang guru, saya tidak menuduh terjadi kebocoran di sekolah A, B, C dan seterusnya ataupun tidak, tapi saya merasakannya. Kenapa? Karena saya suami seorang guru.
Menarik, apa yang disampaikan Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan (Dikmen) Kabupaten Agam, Edy Yerman (Harian Singgalang, senin 28/3/11) yang mengingatkan kepada para kepala sekolah dan guru agar jangan sekali-kali merusak citra guru dengan memberikan kunci jawaban kepada siswa pada saat ujian nantinya.Kalau ingin siswa masing-masing berhasil dengan terhormat berikanlah pembinaan sedini mungkin tanpa harus melalui sikap yang tak terpuji.
Statement ini muncul tentu tidak terlepas dari dukungan Kepala Daerah yang ingin agar mutu pendidikan menjadi lebih baik. Semoga ini menjadi tone at the top bagi perwujudan lingkungan pengendalian yang memadai.
Dibutuhkan pemimpin-pemimpin yang berani tampil di publik yang menegaskan bahwa tidak ada instruksi-instruksi bocor membocor kunci atau kegiatan lain yang dapat merusak citra pendidikan.