Cak Bro
Cerita Ringan Cak Bro :
Suatu hari ada dua pengantin muda, dimana sang istri harus mengikuti tugas sang suami sebagai tentara yang ditempatkan didaerah terpencil, daerah pebatasan Kalimantan. Awal mulanya, sang suami menasehati untuk tidak perlu tinggal disana karena dia yakin tidak akan betah tinggal di daerah tersebut. Namun demi cinta terhadap suami, dia akan tetap ikut serta sesuai dengan nasehat orang tuanya.
Benar saja, awal pertama disana sang istri, yang berasal dari kota besar, merasa tidak betah dengan kehidupan di daerah tersebut karena dia tidak dapat membayangkan sebelumnya. Dia tinggal di sebuah pondok yang begitu sederhana (maklum rumah dinas tentara), letak rumah dengan tetangga sangat berjauhan dengan penerangan lampu listrik yang terbatas, mereka pun tidak memiliki pesawat televisi karena jangkauan siaran terlalu jauh untuk daerah tersebut.
Hari-harinya begitu panjang dan membosankan dengan cuaca yang begitu panas, ditambah lagi penduduk kampung disekitar tidak satupun yang dapat berbahasa Indonesia. Setiap minggu sang suami baru pulang kerumah karena bertugas sebagai tentara penjaga daerah perbatasan, dia pun selalu membawa jatah perbekalan (beras, minyak dan bumbu dapur, termasuk lauk pauk). Saat sang suami datang dan ia mengeluh akan kehidupan disana, sang suami hanya mengatakan bersabar karena jatah untuk pulang harus menunggu tiga bulan lagi.
Untuk pergi menuju kota besar harus dilalui melalui perahu yang datang seminggu sekali, kemudian dilanjutkan ke kota Provinsi dengan bis antar kota yang datang dua hari sekali. Dari kota Provinsi itulah, mereka bisa kembali ke kota mereka berasal dengan menggunakan pesawat. Mendengar penjelasan sang suami, istrinya hanya
berdiam diri dan masuk kedalam kamar.
Karena merasa sudah tidak tahan lagi untuk tinggal di daerah terpencil tersebut, sang sitri mengirim surat yang ia titip lewat suaminya saat kembali bertugas. Seminggu kemudian ia baru memperoleh jawaban surat dari orang tuanya, saat sang suami kembali pulang. Didalam surat yang ia kirim, dia menceritakan ketidak betahan tinggal didaerah tersebut dan berencana akan kembali pulang kerumah tiga bulan lagi.
Dalam jawaban surat dari orang tuanya hanya meminta dia untuk selalu bersabar menerima keadaan tersebut. Namun ada beberapa kalimat yang membuat dia berpikir yakni “ Dua orang laki-laki dalam penjara setiap malam selalu melihat dunia luar lewat terali jendela. Yang satu hanya melihat tembok-tembok kukuh yang mengelilingi dinding penjara. Sedangkan yang satu lagi begitu bergembira karena dapat melihat indahnya bintang-bintang yang gemerlap”.
Dibacanya berulang-ulang kalimat tersebut, membuat ia tersadar dan malu. Ia bertekad untuk tetap menemani sang suami, ia akan berusaha mencari ‘bintang-bintang tersebut’. Usai mengantar sang suami kembali bertugas, dia pun segera menyambangi rumah tetangganya untuk berkenalan. Tetangganya pun menerima dengan tangan terbuka, mereka pun mengajari cara berkebun untuk menanam sayuran karena mereka tidak dapat mengandalkan ‘jatah’ yang dikirim seminggu sekali.
Dia pun mulai mencoba berkenalan dengan beberapa penduduk sekitar ketika dia turut serta mencoba belajar berladang untuk menanam palawija (menanam jagung dan umbi-umbian yang diselingi dengan sayuran dan tumbuhan lainnya seperti cabe, tomat, dll.). Penduduk itupun belajar dari tetangganya yang sudah lama tinggal disana dan membolehkan tanah adat mereka ditanami pohon dan hasilnya dibagi secara bersama-sama. Walau awal mulanya tidak mengerti bahasa mereka, namun dengan bahasa isyarat komunikasi pun berjalan lancar.
Tiga bulan pun berjalan telah lewat, sang suami berkata apakah dia harus meminta ijin cuti untuk mengantar sang istri kembali pulang ke tempat asal, “ Istriku sayang,..walau pun cukup berat saya harus berpisah bersamamu.... sesuai dengan janji saya akan mengantarkan kamu kembali kerumah. Namun apa jawaban sang istri “
Saya tidak jadi pulang sayang, saya akan disini bersamamu hingga kamu selesai menjalankan tugas disini...”. Betapa kaget bercampur gembira mendengar sikap istrinya yang sangat jauh berbeda, rasa cinta pun semakin bertambah dan ia menjadi lebih tenang dalam bertugas.
Bahkan sang istri meminta orang tuanya untuk mengirimi buku-buku sekolah, ia memiliki ide bersama tetangganya untuk mendirikan sekolah buat anak-anak penduduk kampung sekitar. Selang beberapa bulan kemudian, komandan dimana suaminya berdinas sangat setuju dan mengerahkan anak buahnya untuk mendirikan sebuah pondok sekolah. Selanjutnya, kepala desa pun berkirim surat kepada Kanwil Pendidikan Nasional(Kanwil Diknas) dan menyetujui untuk emberi ijin berdirinya sekolah dasar engan mengirim beberapa guru.
Ibu-ibu penduduk sekitar ternyata memiliki keahlian menenun dan hasilnya selalu dijual ke pasar kecamatan setiap minggu untuk ditukar barang kebutuhan lainnya. Dia dan bersama tetangga pun turut belajar menenun, bahkan melalui arisan yang dilakukan setiap minggu, sepakat untuk membeli tambahan beberapa alat tenun.Sepeninggal dia disana suasana kampung dan kompleks perumahan dinas menjadi berubah meriah. Penduduk sekitar pun semakin makmur karena sebagian ibu-ibunya sudahmemiliki penghasilan tambahan dari menenun dan tidak perlu menjual kepasar.
Melalui kerjasama lewat Bhayangkari dan Dharma Wanita, usaha mereka pun disambut positif. Mereka diberi tambahan modal dan boleh menitipkan hasil tenun lelwat koperasi di Provinsi.Keberhasilan mereka pun menjadi contoh, bahkan beberapa pejabat banyak yang berdatangan dan dijadikan proyek percontohan bagi kompleks dinas di daerah lainnya. Jabatan sang suami pun semakin meningkat karena permintaan sang istri tidak segera pindah, justru ia dipromosikan setempat untuk menggantikan pejabat yang lama. Waktu bertahun-tahun justru dilalui bersama dengan kebahagiaan, ditambah mereka telah dikaruniai oleh putra-putri mereka, dan merubah kehidupan mereka.
Bersambung: Ulasan dibalik kisah