Cak Bro
Disela kesibukan mereka memetik bunga tersebut, saya dan kawan justru sibuk menuju salah satu gua-gua yang berada disana, untuk apa dan apa yang dicari?. Ada pula orang yang rendah imannya atau musyrik, mereka terkadang menaruh sesuatu persembahan atau ‘sesajen’ di dalam gua-gua kecil (terkadang digunakan untuk bersemedi). Saya pun menemukan ‘barang’ tersebut berupa beberapa telur ayam mentah, beberapa potong kue, kopi dan beberapa batang rokok!.
Saya pun berteriak, “hore..gue dapat barang, lumayan buat sarapan pagi...”. Salah seorang kawan berkata, “ Cak Bro, itu khan sesajen..... jangan dimakan !, nanti ada apaapa lho,..”. Saya pun berkilah “ memangnya kenapa?, ini perbuatan orang musyrik....”, Dan sayapun berkata lagi, “Ini khan makanan setan,... wajar dong dimakan sama anak setan, he..3x”. (Dasar Cak Bro, bilang aja bawa bekal pas-pasan,...), Demikian pula dengan kawanku yang lain, mereka juga menemukan sesuatu dan memakannya....
Setelah melewati hamparan padang eddelweis tersebut, nampak dibalik bukit berdinding itulah kawah Gunung Gede. Kami pun segera mendaki ke sana, sesampai di atas terlihat kawah gunung,... dibawah sana nampak semacam danau lumpur bergolak dengan kepulan asap putih. Subhanallah,.... begitu indah pemandangan tersebut, sementara dalam suasana shubuh terlihat guratan awan-awan memerah muncul sang surya pagi membias pendaran cahaya menyaput sinar di seluruh kawasan. Tak lupa beberapa kawan yang memiliki kamera segera mengabadikan momen yang indah.
Bagian dari Novel Ringan Cak Bro.