Cak Bro
Mengapa kita berhenti di Cipanas?, bukankah untuk naik gunung harus ke Cibodas karena disana pintu utama untuk naik menuju Gunung Gede-Pangrango (Jalur yang dilewati adalah dari Cibodas – melewati Gunung Pangrango - menuju puncak dan kawah Gunung Gede- kemudian turun melalui Gunung Putri dan menuju Cipanas). Memang sengaja kami naik gunung melewati kaki bukit Gunung Putri, disana jarang ada petugas penjaga kawasan hutan (Petugas Hutan Pengawas Cagar Alam – PHPA). Selain itu, kami tidak memiliki surat ijin mendaki karena tidak memberitahukan sebelumnya dan mendaftar agar memperoleh surat ijin Mendaki gunung (lagi pula kagak ada uang bro!,... buat bayar pendaftarannya), dan kami tidak punya Surat Pengantar dari sekolah(namanya juga bolos, pastinya kagak ijin dari sekolah).
Karena waktu sudah menjelang malam di Pasar Cipanas, terlihat beberapa toko tutup dan sebagian mereka sedang membereskan barang dagangannya. Kami pun segera beristirahat di emperan toko yang tutup, dan mempersilahkan mereka membuka perbekalan makanan. “ Ayo kita istirahat sebentar, dari pasar ini nanti kita harus jalan kaki menuju kaki bukit gunung Putri....”. Walau terlihat letih dan muka pucat pasi, terlihat ada kegembiraan di wajah-wajah ‘anak mami’ seraya berkata saat makan “kalau gue di rumah, jika mau makan harus cuci tangan dulu nih!...”, saya hanya menggeleng tersenyum melihat tingkah mereka.
Setelah selesai istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Perjalanan menuju kaki bukit Gunung Putri melewati rumah-rumah penduduk perkampungan dan pastinya menanjak. Dengan terseok-seok dan terengah-engah mereka berjalan, bahkan ada yang sudah merasa ngantuk dan salah seorang celetuk, “Kenapa gue ikut-ikutan susah begini ya?,.. padahal kalau malam begini di rumah, gue udah tidur nyenyak dengan kasur empuk!”. Seketika rombongan berhenti sejenak seraya memandangnya dan serempak berkata “kalau lu mau,......pulang aja sendiri !!!”.Akhirnya, kami pun sampai di kaki bukit Gunung Putri. Sayangnya hari sudah menjelang malam, suasana sebenarnya cukup indah, karena kami melewati perkebunan penduduk yang menanam sayuran kol, tomat, cabe, dsb. Namun keindahan malam pun sungguh terasa, kami memandang di kejauhan nampak lampu-lampu berkelapkelip dibawah sana, ditambah suasana alam yang begitu terbuka dan dapat memandang langit yang disinari sang bulan yang malumalu mengintip dibalik awan.
Sesaat berjalan di jalan setapak terdengar gemericik air di kiri dan kanan dan diiringi riuhnya suara burung-burung malam (termasuk burung hantu) yang mulai beranjak pergi mencari mangsa. Setibanya di sebuah pancuran pinggir jalan setapak, kami pun berhenti sejenak, “ Ayo kita istirahat sebentar,... kebetulan ada pancuran air. Silahkan kalian isi botol minuman yang kalian bawa”. Dasar anak mami, ada saja yang nyeletuk “Wah ini air mentah, harus dimasak dulu nih....”, kawan yang lain pun menyahut “ kenapa dari rumah lu kagak bawa kompor untuk masak air!,....lagi pula ini air pegunungan sudah pasti bersih”.
Bagian dari Novel Ringan Cak Bro.