Cak Bro
Saya meminta teman-teman untuk mencari ‘sesuatu’ agar dapat menghalangi dan menyetop mobil. Dengan beberapa potongan kayu atau ranting pohon, kami pun memaksa salah satu truk agar berhenti dan berhasil !!!, selanjutnya kawan-kawan naik truk tersebut. Dengan penuh ketegangan, ketabahan dan kesabaran serta keberanian (itu pun terpaksa !), perjalanan kami lewati dari satu truk ke truk yang lainnya. Akhirnya kami mencapai daerah Cipanas, sementara hari sudah menjelang malam.
Namun saya tak habis pikir dengan mereka (yang saya anggap kaum ‘duileh’), mengapa mau pergi bersama kelompok kami (kaum ‘duafa’) dengan rela bersusah payah. Saat saya tanya ke beberapa kawan “ gue yakin, lu-lu pada.... pasti ada punya duit untuk sekedar naik bis menuju puncak, Kenapa sih mau susah-susah naik truk beginian?....”. Mereka bilang, sebenarnya mereka punya uang untuk sekedar naik bis. Namun mereka ingin berpetualang seperti ini dan ternyata memang lebih seru, tegang dan asyik (asyik kepala lu!,... kita-kita sih memang terpaksa naik truk karena kagak ada uang). Mereka ingin membuktikan bahwa mereka bukan ‘anak mami’ (terkadang disebut banci!).
Bagian dari Novel Ringan Cak Bro.