Cak Bro
Akhirnya kami menuju perempatan untuk menunggu kembali truk yang berhenti saatlampu ‘merah’ untuk dapat dinaiki. Kami pun melakukan strategi yang sama agar kawankawan dapat naik truk bersama-sama. Kali ini, truk yang kami naiki agak berbeda, yakni truk yang tidak mempunyai dinding samping alias hanya berlantai besi (umumnyabermuatan container). Saya dan kawankawan segera menyuruh mereka untuk duduk dilantai agar tidak ‘terlempar’ ketika truk berjalan. Benar saja, beberapa kawan (terutama sang cewek-cewek) berteriak ketakutan karena ‘ngeri’ merasa ingin terlempar atau terjatuh. Kami semua berpegangan dan berpelukan bersama karena truk berjalan begitu kencang.
Sesampai di Bogor, truk tersebut ternyata berhenti tepan di sebuah pabrik dan tak berapa lama gerbang pintu terbuka agar truk masuk menuju pabrik terseut. Akhirnya kami turun untuk melanjutkan perjalanan kembali. Kesulitan yang kami hadapi, kami berada dijalan raya dan tidak lampu lalu lintas. Dengan demikian, kami harus menyetop truk-truk yang berseliweran dengan kencang. Berkali-kali kami gagal untuk menghadang truk-truk yang lewat.
Ketika kami memberikan ‘tanda’ meminta kami dapat menumpang, tak satupun truk yang mengurangi kecepatan (bahkan ada beberapa kawan yang hampir terserempet truk karena mencoba menghadangnya).
Bagian dari Novel Ringan Cak Bro.