Cak Bro
Sudah cukup lama kami mencoba dan selalu gagal untuk memperoleh truk yang akan dinaiki, akhirnya kami melakukan ‘rembugan’ (istilahnya - rapat dadakan) dan mencoba mencari strategi untuk mengatasi masalah tersebut. Kami membuat beberapa kelompok dengan tugas tertentu yakni a) kelompok menyetop truk, b) membantu teman-teman yang akan naik truk (terutama cewekcewek), dan c) kelompok terakhir menghadang dan tetap didepan mulut truk hingga seluruhnya sudah naik. Kelompok pertama, kami memilih kawan-kawan pemberani dan kelompok terakhir adalah orang yang nekat plus punya kemampuan/cekatan naik truk saat berjalan dengan kencang.
Tak lama kemudian muncul sebuah truk kosong muatan yang berhenti saat lampu lalu lintas berwarna ‘merah’, dengan segera masing-masing kelompok melaksanakan tugasnya. Sudah pasti sebelumnya, sang supir dan ‘keneknya’ melarang dengan keras, namun kami abaikan. Saya dan beberapa kawan termasuk kelompok yang menghadang di mulut truk, karena cukup banyak orang yang naik, sementara lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna hijau, sang supir dan kenek membentak-bentak seraya mengomel (ditambah lagi mobil-mobil yang dibelakang membunyikan klakson) agar truk tersebut dapat berjalan. Setelah semua kawan sudah naik, kamipun segera naik lewat samping truk yang berjalan dengan kencang.
Selang beberapa lama kemudian, ketika kami melewati daerah perempatan Pulogadung, ternyata truk tersebut berbelok kekiri. Akhirnya kami meminta gar truk tersebut berhenti. Mungkin sang supir sangat kesal permintaan kami tidak diindahkan, akhirnya saya menyuruh kawan yang berada didepan untuk memukul atap mobilnya. Akhirnya sang supir mengerem dengan mendadak karena kesal, lantas saya dan beberapa kawan segera turun lebih dahulu dan menahan truk dengan berdiri didepan mulut mobil tersebut seraya menunggu kawan-kawan lainnya turun dari truk tersebut.
Bagian dari Novel Ringan Cak Bro.