Cak Bro
Kenapa mereka mau pergi dengan kami?, alasannya mereka ingin merasakan berpetualang seperti kami, kata mereka cerita seru dan menarik! (entah siapa yang bercerita... hhmmh pasti si Iko yang banyak omong). Mereka kagum dengan prinsip kami jika mau pergi jalan-jalan “Jangan pernah berpikir tentang uang kalau ingin pergi, jika ada keinginan dan kemauan, pasti ada jalan”. Kami berempat kebingungan, bagaimana cara ‘mengangkut’ mereka ke sana?, ditambah lagi mereka benar-benar bawa uang paspasan! (apalagi ada banyak cewe-cewe).
Jelas kami keberatan dan tidak sanggup membawa begitu banyak orang!, mau carter atau sewa bis?... jelas tidak ada uang cukup. Terjadi perdebatan yang sengit dan berlangsung alot. Bagaimana mungkin cewekcewek mampu berlari mengejar dan naik truk?, ditambah lagi yang cowok-cowok hampir sebagian besar ‘anak mami’ (jarang keluar rumah dan bepergian jauh sendirian). Tetapi mereka memaksa dan memohon agar diikutsertakan, mereka malu untuk kembali ke rumah karena sudah pamit dengan orang tua mereka (lha wong kita aja kagak pamit, beneran!..).
Show Must Go On !!!, walaupun menjadi pekerjaan berat kami. Kita tidak mungkin menyetop mobil pick-up (mobil bak terbuka), berarti kita harus menyetop truk tanpa muatan alias kosong. Padahal sangatlah sulit menyetop atau mengejar truk kosong, karena ringan pasti mobil tersebut akan ngebut dengan kencang jika akan di-stop atau diberhentikan. Awalnya kami mencoba naik truk di perempatan jalan raya yang berhenti karena adanya lampu merah. Namun saat kami ingin naik truk tersebut, lampu sudah berwarna hijau lagi dan otomatis truk tersebut berlari dengan kencang. Berkali-kali kami coba dan akhirnya gagal. Mungkin begitu banyak orang yang akan naik pasti memakan waktu, sehingga saat kami naik truk tesebut, lampu lalu lintas sudah berubah warnanya.
Bagian dari Novel Ringan Cak Bro.