Diseberang sana terlihat semacam bukit yang sebenarnya di sebut dengan Gunung Pangrango, kami juga nantinya akan melintasinya. Kali ini jalur yang kita lewati agak berbeda. Jika sebelumnya kita berjalan mendaki, kini kita harus menuruni jalan-jalan yang terjal, berbatuan dan jelas dipenuhi akar-akar pohon. Yang merasa dirinya kuat, mereka berjalan meloncat-loncat dari satu batu ke batu yang lain, terkadang mereka terperosok atau terjerembab jatuh menabrak pohon disisi jalan. Kami pun tertawa melihat tingkah mereka, padahal cukup sakit rasanya melihat bilru-bilur kakinya karena terjatuh.
Saya sering berteriak “ Hoi kawan-kawan yang di depan, jika ketemu pondok kalian istirahat dulu,....kasihan kawan yang dibelakang sudah terlalu jauh nih.” Bagi yang lemah atau sudah lelah, dengan tertatih – tatih (terutama cewek-cewek nih) menapaki jalan dengan memegang tongkat yang berasal dari ranting pohon yang agak besar.
Saya pun segera membantu membimbing atau menarik mereka untuk segera mempercepat jalan. Terkadang saya sering menyemangati para cewek-cewek yang
kelelahan, “Oke kalian istirahat sebentar,.... jangan dipikir rasa lelahnya, coba dengarkan kicauan burung disekitar dengen semilir angin yang menggesek dahan-dahan ... betapa merdu dan indahnya bukan?”.
(Bersambung)
Wah, sudah terlalu banyak nih tulisannya nanti kagak sempat kerja lagi…… (Jangan jadi alasan ya, kerjaan terlambat…. gara2 baca kisah Cak Bro).
Sekian dulu dech nanti disambung lagi,….
Salam hangat dari Sidoarjo.
Bagian dari Novel Ringan Cak Bro.